Meninggalkan
Seusai menandatangani kontrak dengan perusahaan baru, ada yang berbeda. Inikah rasanya sesuatu yang dulu aku tunggu-tunggu, keluar dari kondisi titik kulminasi yang membunuhku.
Memasuki kantor, ada perasaan aneh menyelimuti. Kulangkahkan kakiku menaiki tangga, kulayangkan pandanganku melihat suasana di bawah. Melihat suasana kantor lebih seksama, tempat duduk para atasanku. Memasuki ruanganku, aku lebih cermat memperhatikan kursi-kursi yang suka menghilang, komputer-komputer yang kadang internetnya suka ngadat, meja baru kita yang lebih lapang dibandingkan sebelumnya.
Beranjak ke mejaku, aku duduk memandangi satu per satu wajah temanku yang akan aku tinggalkan. Suatu hari nanti pasti aku akan merindukannya. Candanya, celotehannya, tingkah laku mereka. Tiba-tiba saja teman yang selama ini tidak terlalu dekat, menjadi dekat di hati. Aku melihatnya mereka kini lebih spesial.
Ketika pandanganku berakhir di sudut ruangan, aku baru sadar ada seseorang yang nantinya akan berat berpisah dengannya. Seseorang yang selama ini membuat aku bahagia jika melihat senyumnya. Seseorang yang selalu menampung cerita-ceritaku. Aku jadi ingat, dia satu-satunya lelaki yang mengucapkan Valentine untukku, selain dari bapakku. Dan entah mengapa kini malah kita semakin akrab di dunia maya, padahal kita setiap hari bertemu. (Menyesal, mengapa kita terlambat bertemu hehe)
Apalagi berbicara dengan atasanku, rasanya tak tega aku meninggalkan mereka. Tim ekonomi untuk beberapa saat pasti akan ada perubahan, penyesuaian disana-sini selepas kepergianku. Memandang teman-teman satu tim, rasanya berat meninggalkan mereka
****
Meninggalkan…..ternyata hal itu jika dilakukan cukup berat….Selama ini aku sering ditinggalkan seseorang yang punya arti untukku, sakit memang, apalagi aku sangat percaya terhadapnya….Namun kini aku mengerti, ternyata meninggalkan bukanlah sesuatu yang mudah. Mungkin dia juga merasakan sama seperti yang aku rasakan…Meninggalkan adalah suatu pilihan, pilihan yang harus ditempuh karena dengan cara itu seseorang yakin akan masa depannya, atau pilihan hidupnya. Selama ini aku berpikir seperti itu, pasti banyak alasan ketika seseorang harus meninggalkan sesuatu, jadi aku berharap dapat selalu menghormati pilihan hidup seseorang.
****
Pilihan….ya kata-kata itu yang membuat aku memutuskan untuk meninggalkan teman-teman kerjaku. Setiap keputusan hidupku, selalu aku pertimbangkan matang-matang, dengan kepalaku sendiri dan tidak dipengaruhi orang lain. Berbagai kondisi yang menurutku tidak sesuai dengan keinginanku, sistem yang macet, dan kekecewaan yang aku alami membuat aku ingin pindah. Dan semuanya meledak pada suatu peritiwa tertentu, yang tidak pernah aku ungkapkan kepada siapapun yang membuat aku kecewa. Peristiwa puncak itu membuat aku bertekad harus keluar dari kantorku. Aku tidak pernah berkoar-koar atas kekecewaanku, tidak pernah menuntut sesuatu, karena aku berpikir, jika memang tidak setuju harus dilakukan dengan tindakan…Ya tindakan untuk mencari tempat (menurutku) lebih baik….Aku juga tidak pernah menyalahkan orang lain, karena aku berpikir kesalahan ada di diriku, jika masih bisa setuju dengan sistem yang ada, kamu harus menghadapi konsekuensinya.
Dan tawaran pekerjaan semalam langsung kusambar dengan cepat. Aku mendapatkan pekerjaan baru dalam waktu satu jam kurasa….Tak sempat berkonsultasi kepada orang tua, karena semua berlangsung dengan cepat. Aku hanya berpikir, kesempatan tidak datang dalam dua kali, semua harus diputuskan dengan cepat, saat itu juga, jika tidak maka penyesalan akan menjadi tak berarti…
Selepas mendapatkan pekerjaan baru, aku hanya mengirim sms kepada ortuku kalau aku mau keluar kerja. Ya mereka pasti kaget dengan keputusanku, tapi mungkin juga sudah terbiasa mendengar keputusan-keputusan hidupku. Mereka tahu, aku selalu melakukan apa yang terbaik untukku, jadi keputusanku takkan pernah bisa diubah oleh argumen-argumen mereka. "Yaah ortu kan tugasnya mendukung, mendoakan, dan membiayai hehehe…semua keputusan kan ada di tangan kita, karena kita yang menjalani, bukan mereka" gumamku…
***seusai menandatangani kontrak dengan kantor baruku, Jumat,6 Juni 2008****
Hari ini adalah hari terakhirku bekerja, dan satu per satu aku pamitan dengan teman-teman sekantorku…Sedih memang meninggalkan suatu tempat yang setiap hari aku datangi, melalui segala suka, duka, pengalaman, pembelajaran, dan teman-teman yang berharga…Titik air mata jatuh, khususnya kepada orang-orang yang menimbulkan kesan mendalam. Pertama jatuh ke seseorang, yang baru akhir-akhir ini sedikit meninggalkan kesan. Aku tak bisa berkata-kata, hanya tangis yang aku tunjukkan.
Teman-teman di lantaiku, sudah aku pamiti. Tinggal lantai bawah, yaitu tempat para atasanku. Yang paling berkesan, adalah pas pamitan dengan Mas Yovan, dia adalah atasan pertamaku ketika aku bekerja. Aku sangat menghargainya karena sikap kami seperti kakak-adik, tempat curhatku, tukang pijit juga ketika aku masuk angin dan sakit kepala (hehehe). Berbeda dengan yang lain, aku berpelukan dengannya berulang-ulang, meneteskan air mata.
Huuh…akhirnya, proses menyedihkan ini berakhir juga…..Semoga keputusanku ini memberi jalan yang lebih baik untukku…Amien. Teman-teman doakan aku ya…terimakasih juga untuk semua temen-temen kerjaku, maaf jika aku punya banyak salah…..
***Jakarta, 30 Juni 2008***